Image Alt

Letters from Ger An Introduction

By Yulia Dwi Andriyanti

Tulisan Pengantar: Surat dari Ger

Ger, difoto oleh Rora, 1963, diterbitkan The Ladder, vol. 9 no. 2 November 1964

Perasaan queer tak mungkin lepas dari kompleksitas tentang bagaimana kategori queer diletakkan dalam sejarah yang memposisikannya sebagai keberadaan yang gagal atau bahkan ketiadaan. Gerakan homofilia dan organisasi Daughters of Biilitis (DOB) berkembang dalam gelombang represif Amerika Serikat pada awal 1940an hingga 1960an. Lavender Scare, sebuah perburuan sistemik oleh negara terhadap homoseksual dan komunis yang bekerja di pemerintahan dengan memecat atau memaksa mereka keluar. Keduanya dianggap mengancam keamanan dan rahasia negara. Alasannya karena keduanya memiliki masalah mental yang aneh, abnormal sehingga keberadaannya adalah kegagalan. Tak hanya itu, represi terjadi bagi para gay yang bekerja di kepolisian, militer, tempat usaha, hingga razia di berbagai bar. 

 

The Ladder, majalah lesbian yang diterbitkan DOB, menjadi sebuah sarana bagi para organisers-nya untuk membangun identitas lesbian dalam penolakan masyarakat yang sungguh kentara. The Ladder dapat ditemukan di tempat-tempat yang menjual publikasi murah seperti toko apotik atau stasiun bis, bersandingan dengan terbitan lainnya, seperti cerita jurnalistik tentang homoseksual sebagai “penyimpangan” atau “buku-buku saku” dengan sampul halaman depan yang menseksualisasi hubungan sesama perempuan demi pemenuhan hasrat laki-laki cishetero.

Perasaan isolasi dan terasing tak hanya melekat di keseharian perempuan lesbian Amerika Serikat, namun juga pada keseharian Ger van Braam; perempuan lesbian keturunan Indonesia-Eropa yang lahir di Jakarta dan berkebangsaan Indonesia. Dalam korespondensi surat-surat Ger pada Barbara Gittings, editor The Ladder, yang berbahasa Inggris, Ger bercerita tentang heteronormativitas yang sungguh terasa melalui tekanan pernikahan, terutama bagi perempuan. Ger bercerai setelah tiga bulan pernikahannya dan Ger mampu melakukannya karena kemandiriannya secara ekonomi dan pendidikan. Tak dapat ia pungkiri bahwa stigma “perawan tua” semakin menambah perasaan terisolasi para lesbian, memaksa mereka untuk menikah dengan laki-laki; meskipun mereka telah memiliki pekerjaan yang sangat baik. 

 

Surat-surat Ger pada Barbara menunjukkan hasrat Ger untuk melekat pada ide tentang keluarga. Bukan pada keluarga biologis – yang membikin dirinya takut menjadi “black-sheep”. Tapi pada keluarga yang yang dipilihnya sendiri: tinggal bersama kakaknya yang tak banyak bertanya tentang urusan pribadinya, tinggal bersama Rora, sahabatnya, sebagai teman sekamarnya, dan pindah ke tempat tinggal baru bersama Rora dan Hetty, kekasih perempuannya. Ger pun sungguh mengagumi kejujuran dan keberanian Hetty, yang mengakhiri pernikahannya dengan melela pada suaminya bahwa ia seorang gay dan jatuh cinta pada perempuan.  Tinggal bersama Hetty dan Rora membuat Ger merasa nyaman, tak perlu bersembunyi dalam struktur keluarga ideal cis-heteroseksual. Ia bilang: “there are now three of us together sharing the same feelings. Isn’t it just wonderful??!”

 

Rasa terasing tentunya tidak segera bisa pergi karena nilai heteroseksualitas masih terus beroperasi. Meski di ruang publik orang-orang tak peduli dengan dua perempuan atau dua laki-laki saling berpegangan tangan, namun kata “homo” menjadi makian yang menunjukkan rasa jijik terhadap queer sebagai keberadaan yang gagal dan abnormal. Makian terhadap laki-laki yang menggunakan ‘pakaian perempuan’ dan bentuk fisik yang berbeda, terhadap laki-laki yang berpakaian terlalu feminin, terhadap perempuan yang berpakaian terlalu maskulin. Di satu pertemuan kumpul Ger dengan teman-temannya yang gay, Ger sempat tak dipercayai oleh teman gay laki-lakinya sebagai lesbian karena Ger yang feminin, “because we look so ‘dead-normal’.”, ungkap Ger. 

Persahabatan Ger dan Barbara adalah sebuah kelekatan feminist (feminist attachment). Kelekatan tentang perasaan queer (rasa isolasi dan terasing) yang personal dan kolektif. Kelekatan yang membawa pada kesadaran kritis dan bentuk aktivisme yang memungkinkan untuk menantang dan membongkar dunia yang terus menerus melegitimasi nilai cis-heteroseksual. Barbara meminta surat-surat dan foto Ger diterbitkan di edisi The Ladder. Ger dan Hetty bergembira untuk tidak mensensor nama mereka dalam edisi The Ladder, termasuk Rora yang menjepret foto Ger. Ger bercerita tentang buku-buku lesbian yang dibacanya dan membantunya mengenali diri dan perasaannya sekaligus tentang sulitnya mendapatkan buku.  Barbara merencanakan “Book for Ger” kepada para pembaca The Ladder di AS untuk mendonasikan buku-buku lesbian berbahasa Inggris. Ger bersemangat untuk menerima dan merencanakan agar buku-buku tersebut dapat berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, pada semua perempuan yang diketahuinya, termasuk pada kakaknya yang menjadi biarawati. “I want to say it with books, to let them think it out for themself.” Begitu kata Ger. 

 

Membaca surat-surat Ger dan Barbara, adalah perjalanan reflektif tentang perasaan queer dan perannya dalam membuka berbagai kemungkinan untuk mengkontestasi tatanan yang terus meniadakan dan menghapus diri dan perasaan queer. Untuk membuka kemungkinan tersebut, tentunya dimulai dengan mengakui perasaan queer. Sedari awal. 

Surat dari Ger

View the Letters from Ger exhibition

About the Author

Yulia Dwi Andriyanti

Yulia Dwi Andriyanti atau Edith (she/they) adalah queer, penulis, peneliti, penggerak komunitas dan konselor. Selama lima belas tahun terakhir aktif mengembangkan organisasi orang muda dengan interseksi iman dan seksualitas, organisasi feminis-queer serta koperasi untuk individu LBTIQ. Ia juga menjadi badan penasehat organisasi feminis di tingkat regional. Pendidikan terakhirnya adalah S2 jurusan gender, seksualitas dan ketubuhan di University of Leeds, Inggris.

Edith menerbitkan publikasi, baik dalam format tulisan, video, maupun penuturan, seperti Children of Srikandi (2012), Tutur Feminis Meluruhkan yang Biner (2019), Rindu Berat Sang Kucing (2020), Antologi Cerita Sehari-Hari Diri dan Semua yang Mengitari (2021), dan periwayatan feminis Indonesia Syarifah Sabaroedin (2018, 2022). Ia memiliki minat yang besar untuk menelusuri dan mencatatkan berbagai pemikiran dan perasaan feminis-queer. 

Sejak 2020, Edith memfokuskan diri pada pemikiran dan praktik perawatan queer. Ia terlibat dalam beberapa komunitas berlatih, seperti WeSIS (Well Being, Self-Care dan Integrated Security) yang dikelola Institute for Women’s Empowerment, praktik meditasi gerak dinamis 5Rhythms tribe, metode Points of You dan metode TAT (Tapas Accupressure Techniques). Tahun 2023, Edith terpilih sebagai Radical Love Fund fellow Mama Cash untuk mengembangkan Queerinlife. 

Edith dapat disapa melalui @queerinlife atau https://queerinlife.com/